Media Globalisasi.com, Mojokerto – Rutinan Selawatan ke-19 yang digelar di Jalan Raya Banjarsari Nomor 59, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (24/1/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. Kegiatan ini diinisiasi oleh Direktur LBH Djawa Dwipa sekaligus LKH Barracuda, Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., bersama Grup Selawat Al Haddad Djawa Dwipa.

Dalam sambutannya, Hadi Purwanto menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh jemaah atas doa yang telah dipanjatkan bersama. Ia mengungkapkan bahwa berkat doa dan ridho Allah SWT, anak pertamanya, Titan Pasyahrani Hadi, berhasil meraih nilai A di seluruh mata kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang saat ini menempuh semester 5 di Fakultas Hukum.
“Selain itu, saya juga mohon doa untuk anak kedua saya yang saat ini duduk di kelas XI SMAN 1 Bangsal agar dimudahkan dalam segala urusannya. Alhamdulillah, bulan kemarin ia mendapatkan peringkat pertama. Terakhir, mohon dibantu mendoakan ahli kubur keluarga saya dan ahli kubur kita semua,” ujar Hadi Purwanto.
Ia menegaskan bahwa istiqomah dalam kebaikan, khususnya melalui selawatan dan doa bersama, merupakan ikhtiar untuk mengantarkan generasi penerus menuju cinta Islam.
“Kami berharap generasi penerus bisa istiqomah mengirim doa bersama, mempraktikkan selawat Nabi, serta mendengarkan kisah-kisah inspiratif Nabi Muhammad SAW. Mengajarkan agama kepada anak-anak adalah investasi terbaik untuk masa depan mereka,” tutur Hadi Purwanto yang akrab disapa Hadi Gerung.

Sementara itu, Penasihat Jemaah, K.H. Mathori Hasan, dalam ceramahnya mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua selagi masih diberi kesempatan.
“Orang yang paling sayang kepada kita adalah orang tua, bukan pasangan. Buktinya, ketika kita meninggal, pasangan bisa menikah lagi. Maka selagi orang tua masih ada, berbuatlah baik sebanyak-banyaknya,” pesan Kiai Mathori.
Ia menambahkan bahwa amal saleh, seperti istiqomah berselawat dan mengirim doa, akan menjadi kebahagiaan bagi orang tua yang telah wafat.
“Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh,” ucapnya.
Kiai Mathori juga menegaskan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak memiliki daun dan buah. Ia turut menyoroti kebiasaan sebagian jemaah yang berebut makanan setelah salat Jumat.
“Semoga ke depan hal itu tidak terjadi lagi. Alangkah lebih baik jika makanan dibagikan sebelum salat Jumat, sekitar pukul 11 siang, saat jemaah mulai berdatangan ke masjid,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Mathori turut mengapresiasi Hadi Purwanto sebagai sosok dermawan yang memahami makna kekayaan sejati.
“Orang kaya bukan dinilai dari hartanya, tetapi dari perilaku dan amal salehnya. Mas Hadi Purwanto adalah contoh orang kaya yang benar, karena mau berbagi dan mengundang banyak jemaah untuk selawatan dan doa bersama,” paparnya.
Penasihat kegiatan, Ustaz Mukid, menambahkan bahwa Hadi Purwanto juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan doa seluruh jemaah.
“Berkat doa kita bersama dan ridho Allah SWT, anak pertama Mas Hadi Purwanto, Titan Pasyahrani Hadi, berhasil meraih nilai A di Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya,” jelas Ustaz Mukid.
Ia menutup dengan pesan bahwa setiap manusia pasti akan meninggal dunia dan tidak ada yang menemani kecuali amal perbuatannya.
“Melalui amal itulah Allah memberikan pertolongan. Kita tidak pernah tahu doa siapa yang akan dikabulkan. Maka teruslah berdoa dan jangan ragu meminta doa kepada sesama,” pungkasnya.
(Yik)
